MESKI berhasil menghubungi orangtua melalui telepon beberapa menit seusai gempa dan dapat kabar bahwa mereka baik-baik saja, perasaan saya tetap tak bisa tenang. Pikiran saya, orangtua memang tak pernah ingin menyusahkan anaknya. Seberat apa pun penderitaan, kepada anak selalu dikatakan baik-baik saja. Dalam pikiran saya, bagaimana mungkin baik-baik saja, toh televisi selama 24 jam penuh memberitakan berbagai kehancuran dan kengerian seputar gempa di Padang dan Pariaman. Apalagi iringan lagu saluang Baliak ka Nagari yang mendayu-dayu, seperti mengimbau-imbau anak rantau untuk segera pulang.
Setiap kali menonton televisi, bayangan saya Padang dan Pariaman memang sudah ‘kiamat’. Hancur total, tak ada lagi harapan. Akhirnya, dengan perasaan bercampur aduk, hari kedua setelah gempa, Jumat tengah malam saya memutuskan berangkat ke Pariaman.
Sabtu pagi, memasuki Kabupaten Padang Pariaman, di Kayu Tanam belum terlihat tanda-tanda kalau gempa 7,6 SR baru saja mengguncang. Memasuki Sicincin, mulai tampak satu dua rumah roboh ke tanah. Di Kiambang, kondisinya makin parah. Tapi di Sungai Sariak, kondisinya agak mendingan. Setidaknya di kiri kanan jalan yang saya lewati rumah-rumah masih utuh berdiri, meski beberapa ada yang retak lumayan parah. Di Kurai Taji dan kampun kelahiran saya, Desa Marunggi, pun demikian. Banyak rumah roboh, tapi lebih banyak yang retak. Sebagian masih bisa ditempati kembali. Namun banyak pula yang tak lagi layak huni.

Komentar Terbaru