Wabah Mematikan di Kampung Halaman

>>Refleksi Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2012

13543758722127935543HARI ini, 1 Desember 2012, diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (HAS). Ini adalah sebuah hari yang didedikasikan untuk meningkatkan kewaspadaan seluruh lapisan masyarakat di berbagai penjuru Bumi terhadap wabah AIDS yang terus meluas dari tahun ke tahun. Ide peringatan Hari AIDS Sedunia ini pertama kali dicetuskan oleh James W Bunn dan Thomas Netter, dua orang pekerja di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bagian informasi publik.

Ide itu sebenarnya disampaikan Bunn dan Netter, Agustus 1987. Bunn menyarankan momen yang dipilih adalah tanggal 1 Desember, dan HAS mulai diperingati sejak 1 Desember 1988 (id.wikipedia.org). Sebenarnya tak ada kejadian apa pun yang istimewa pada 1 Desember 1988 tersebut. Pilihan ini tak lain karena pertimbangan strategi peliputan di media massa, karena liputan media diyakini sangat penting untuk keberhasilan kampanye penanggulangan AIDS di seluruh dunia.

Sebagai mantan reporter televisi di Fransisco, Bunn paham betul karakter media, khususnya di Barat. Pertengahan 1988 adalah masa pemilihan presiden Amerika Serikat. Jika HAS diperingati di bulan-bulan awal hingga pertengahan tahun, tentu liputan media tak terlalu signifikan karena mereka lebih fokus ke pemilihan presiden.

Biasanya, pasca pemilihan presiden AS media di Barat nyaris tak lagi bernafsu memberitakan politik, dan justru mereka bersemangat mencari cerita baru untuk diliput. Sementara akhir Desember, media di Barat biasanya disibukkan dengan liputan Natal dan tahun baru. Maka 1 Desember, menurut Bunn dan Netter, adalah momen yang tepat karena itu adalah tanggal mati dalam kalender berita di Barat.

Kasus HIV pertama muncul di Indonesia pada tahun 1987, atau setahun sebelum Hari AIDS Sedunia yang pertama kali dicanangkan pada 1 Desember 1988. Hari ini, 25 tahun setelah kasus pertama itu atau saat kita memperingati HAS ke-24, jumlah kasus HIV dan AIDS di bumi Indonesia tercinta sungguh sangat mencengangkan.

Kementerian Kesehatan RI melaporkan, sejak pertama kali kasus HIV ditemukan pada tahun 1987 sampai dengan Maret 2012, terdapat 30.430 kasus AIDS dan 82.870 orang terinfeksi HIV yang tersebar di 33 propinsi di Indonesia. Prosentase kumulatif AIDS tertinggi ada pada kelompok umur 20-29 tahun (46,0 persen). Rasio kasus AIDS antara laki-laki dengan perempuan adalah 2 : 1 (laki-laki : 71 persen dan perempuan 28 persen).

 

Selama periode pelaporan bulan Januari hingga Maret 2012, prosentase kasus HIV/AIDS tertinggi adalah karena hubungan seks tidak aman pada heteroseksual (77 persen), penggunaan jarum suntik pada penasun alias pemakai narkoba suntik (8,5 persen), dari ibu (positif HIV) ke anak (5,1 persen) dan LSL alias Lelaki hubungan Seks dengan Lelaki (2,7%). Yang lebih miris lagi, menurut laporan ini, jumlah kasus HIV pada anak-anak sebanyak 789 orang, terdiri dari anak bawah 4 tahun sebanyak 547 kasus, dan anak usia 5 – 14 tahun sebanyak 242 kasus (aidsindonesia.or.id).

Lantas, bagaimana dengan kasus HIV/AIDS di kampung kita, Rokan Hilir? Menurut catatan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Rokan Hilir, sedikitnya saat ini terdapat 77 kasus HIV dan 55 kasus AIDS di Rokan Hilir. Angka-angka ini sempat membuat kaget Ketua KPA Rohil yang juga Wakil Bupati Rokan Hilir H Suyatno AMP. Ia menganggap jumlah kasus di Rokan Hilir sudah sangat mengkuatirkan. ‘’Ini peningkatan yang cukup luar biasa, perlu penanganan khusus dan serius dari kita semua secara seksama,’’ kata Suyatno (Posmetro Rohil, 20/11/2012).

Suyatno tentu saja pantas sangat kuatir. Kekuatiran itu sesungguhnya bukan hanya pada angka kasus HIV dan AIDS yang 77 dan 55 kasus saja. Tapi ada yang lebih mencemaskan di balik angka tersebut. Angka 77 dan 55 kasus ini sebenarnya adalah angka yang ketahuan saja, hasil temuan Dinas Kesehatan dari pemeriksaan. Masalahnya, bagaimana dengan kasus-kasus yang belum ketahuan?

Di kalangan pegiat penanggulangan HIV/AIDS dikenal fenomena ‘puncak gunung es’. Fenomena gunung es itu biasanya sering digunakan sebagai perumpamaan, dimana umumnya, sekitar 80 – 90 persen volume gunung es berada di bawah permukaan air laut. Sedangkan yang terlihat di permukaan hanyalah puncaknya dengan volumenya sekitar 20 persen saja. Memakai fenomena gunung es ini, WHO menyatakan dari 1 orang yang terdeteksi diduga ada sekitar 100 orang lainnya terjangkit.

Bayangkan, jika menggunakan teori ‘puncak gunung es’ tersebut, berapa sesungguhnya kasus HIV/AIDS yang sebenarnya di Rokan Hilir. Silakan saja kalikan angka kasus saat ini dengan angka 100. Itulah kemungkinan jumlah orang yang sudah terjangkit wabah mematikan itu di kampung halaman Rokan Hilir.

Dengan demikian, seharusnya wabah AIDS di Rokan Hilir tidak hanya menjadi kekuatiran Wakil Bupati H Suyatno selaku ketua KPA Rohil. Mestinya, itu juga menjadi kekuatirkan kita semua dan ikut bersama-sama berpartisipasi menanggulanginya. Lantas apa saja yang bisa kita lakukan? (bersambung)

* posmetro rohil, 1 desember 2012

Memaknai Rohil Sebagai Negeri Seribu Kubah

Oleh: M. Arief Rahman 

Baru kali inilah saya melihat ada kota baru yang dibuat di Indonesia dengan karakter yang kuat. Saya sudah sering melihat kota baru seperti ini di Cina atau Malaysia, tapi baru di Bagansiapiapi ini saya menemukannya dilakukan di Indonesia.

Dahlan Iskan

Beberapa pekan sebelum menjadi Menteri Negera Badan Usaha Milik Negera, Dahlan Iskan sempat berkunjung ke Bagansiapiapi, ibukota Kabupaten Rokan Hilir. Dahlan yang saat itu menjabat direktur utama PLN, memang tak sampai satu hari di Bagansiapiapi. Namun ia sangat terkesima melihat pembangunan di Bagansiapiapi yang dijulukinya sebagai “Putra Jaya Junior”.

“Saya benar-benar dibuat terkejut oleh perkembangan kota tua ini. Bagansiapiapi ternyata lagi membangun diri secara besar-besaran. Bupati Rokan Hilir H Annas Maamun yang terpilih kembali, kini sedang membenahi kota lama sekaligus membangun kota baru,” tulis Dahlan dalam catatannya (Riau Pos, 1 Oktober 2011).

Putra Jaya adalah sebuah kota dengan arsitektur menawan, sekitar 25 kilometer dari Kuala Lumpur yang sekarang jadi pusat pemerintahan Malaysia. Kota baru di Bagansiapiapi yang dimaksud Dahlan Iskan adalah kawasan Batuenam yang merupakan komplek perkantoran pemerintahan, sekaligus diharapkan menjadi sentra bisnis.

Kawasan ini memang dirancang sedemikian rupa, dibuat seperti Putra Jaya dalam ukuran kecil. Jalan rayanya kembar, masing-masing tiga jalur. Bangunan-bangunan kantornya memiliki halaman yang luas, dibuat cukup jauh dari jalan raya. Dahlan Iskan menyebut kawasan ini sebagai ‘’Putra Jaya Junior’’ tentu saja karena arsitekturnya.

Seluruh bangunan di kota baru itu menggunakan model berkubah. Bangunan kecil berkubah kecil. Bangunan besar memiliki kubah besar. Ada model dua kubah, ada pula yang hanya satu kubah saja. “Baru kali inilah saya melihat ada kota baru yang dibuat di Indonesia dengan karakter yang kuat. Saya sudah sering melihat kota baru seperti ini di Cina atau Malaysia, tapi baru di Bagansiapiapi ini saya menemukannya dilakukan di Indonesia,” tulis Dahlan mengungkapkan kekagumannya.

Lanjutkan membaca ‘Memaknai Rohil Sebagai Negeri Seribu Kubah’

Pulpen Murah Pak Boediono

boedioBARANGKALI tak banyak yang tahu kalau Wakil Presiden kita yang baru, Boediono, ternyata gemar menggunakan pulpen murah meriah. Setidaknya, itu terekam dari jepretan sejumlah foto yang pernah dimuat di media massa. Foto-foto ini tentu saja sebelum Pak Boed jadi Wapres.

Menyaksikan foto-foto yang saya dapatkan dari situs kaskus ini, ada beberapa spekulasi. Pertama, Pak Boed memang pribadi yang sangat sederhana. Berbeda dengan pejabat-pejabat negara lain yang gemar memamerkan pulpen berharga jutaan, Pak Boed malah lebih suka dengan pulpen murah meriah, mirip pulpen anak SD atau SMP.

Kedua, barangkali Pak Boed pelupa, sering kehilangan pulpen. Nah… daripada pakai pulpen mahal yang sering tercecer di mana-mana dan akhirnya, mendingan pakai yang murah meriah saja. Ketiga, bisa jadi foto-foto ini hasil rekayasa photoshop belaka. Saya gak ngerti trik-trik software perekayasa foto, tapi sependek pengamatan saya foto ini asli adanya. Mudah-mudahan ini memang cermin kesederhanaan seorang Boediono.

Lanjutkan membaca ‘Pulpen Murah Pak Boediono’

Jam Gempa dan Ayat Alquran

gempa pariamanSEMULA saya hanya tersenyum geli membaca SMS yang dikirim seorang teman. Barangkali Anda juga menerima SMS yang sama. Tampaknya ini adalah SMS berantai yang dikirim seseorang, kemudian menyebar ke banyak orang.

Begini bunyi SMS tersebut: “Gempa Sumbar pukul 17:16 WIB, gempa susulan pukul 17:58 WIB, gempa Jambi pukul 08.52 WIB. Mohon cek dalam Alquran berdasarkan jam tersebut. 17:16 = QS Al-Isra’ ayat 16, 17:58 = QS Al-Isra’ ayat 58, 08:52 = QS Al-Anfal ayat 52. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.”

Ada-ada saja cara orang mencari sensasi, pikir saya. Ketika SMS ini saya perlihatkan pada istri di rumah, ia langsung membuka Alquran terjemahan, membuka ayat-ayat tersebut dan membacanya keras-keras. Nauzubillah! Kami terpana. Ayat-ayat ini benar-benar bicara tentang azab dan kebinasaan.

Berikut terjemahan ayat-ayat tersebut: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar mentaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu). (Al-Isra’ ayat 16)

Lanjutkan membaca ‘Jam Gempa dan Ayat Alquran’

Pariaman, Masih Ada Harapan

kampung dalamMESKI berhasil menghubungi orangtua melalui telepon beberapa menit seusai gempa dan dapat kabar bahwa mereka baik-baik saja, perasaan saya tetap tak bisa tenang. Pikiran saya, orangtua memang tak pernah ingin menyusahkan anaknya. Seberat apa pun penderitaan, kepada anak selalu dikatakan baik-baik saja. Dalam pikiran saya, bagaimana mungkin baik-baik saja, toh televisi selama 24 jam penuh memberitakan berbagai kehancuran dan kengerian seputar gempa di Padang dan Pariaman. Apalagi iringan lagu saluang Baliak ka Nagari yang mendayu-dayu, seperti mengimbau-imbau anak rantau untuk segera pulang.

Setiap kali menonton televisi, bayangan saya Padang dan Pariaman memang sudah ‘kiamat’. Hancur total, tak ada lagi harapan. Akhirnya, dengan perasaan bercampur aduk, hari kedua setelah gempa, Jumat tengah malam saya memutuskan berangkat ke Pariaman.

Sabtu pagi, memasuki Kabupaten Padang Pariaman, di Kayu Tanam belum terlihat tanda-tanda kalau gempa 7,6 SR baru saja mengguncang. Memasuki Sicincin, mulai tampak satu dua rumah roboh ke tanah. Di Kiambang, kondisinya makin parah. Tapi di Sungai Sariak, kondisinya agak mendingan. Setidaknya di kiri kanan jalan yang saya lewati rumah-rumah masih utuh berdiri, meski beberapa ada yang retak lumayan parah. Di Kurai Taji dan kampun kelahiran saya, Desa Marunggi, pun demikian. Banyak rumah roboh, tapi lebih banyak yang retak. Sebagian masih bisa ditempati kembali. Namun banyak pula yang tak lagi layak huni.

Lanjutkan membaca ‘Pariaman, Masih Ada Harapan’

EMPATI

Oleh: Andy F Noya

AndyFnoyaSuatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.

Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.

Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.

Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Lanjutkan membaca ‘EMPATI’

Memutar Jarum Jam, Menghemat Listrik

Krisis listrik melahirkan ide kreatif. Berbagai alternatif energi baru mulai dikaji, bahkan sudah banyak pula yang mencoba. Membuat listrik dari sampah atau kotoran ternak, misalnya. Tapi ada suatu ide lagi yang cukup menarik dan barangkali tak penah terpikirkan. Yaitu, menata ulang waktu di Indonesia, memindahkan satu jam dari malam menjadi siang hari untuk mengurangi pemakaian listrik.

Hah… ide gila apa pula ini? Gimana caranya…? Berikut sebuah tulisan menarik dari Ninok Laksono di Kompas tentang ide menata ulang waktu tesebut. Silakan baca!

Ketika krisis listrik terjadi, biasanya yang lalu hinggap di kepala untuk penghematan adalah program pemadaman listrik atau pengurangan aktivitas yang melibatkan transportasi. Namun, di lingkungan masyarakat ada pula yang coba mendekati masalah ini dari sisi yang lebih fundamental, yakni dengan mengubah sistem waktu.

Lanjutkan membaca ‘Memutar Jarum Jam, Menghemat Listrik’

Ada Apa dengan PKS?

Benar-benar aneh tapi nyata. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) membuat blunder. Sudah nyata-nyata mendeklarasikan diri ‘abstain’ alias tak ikut mengusung calon di Pilkada Riau, tiba-tiba kini berbalik menyatakan mendukung pasangan Chaidir-Suryadi Khusai (CS). Dukungan itu pun  disampaikan saat masa pencalonan sudah lama berakhir, bahkan sudah masuk masa kampanye.

Chaidir adalah tokoh senior Golkar dan mantan Ketua DPRD Riau. Suryadi Khusaini Ketua PDIP Riau. Pasangan ini diusung PDIP berkoalisi dengan Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Sampai batas akhir pencalonan di KPU Riau, PKS tak ikut menyatakan dukungan ke pasangan ini. Malah saat itu PKS menyatakan abstain.

Kini, setelah hari pertama kampanye dimulai, tiba-tiba saja Presiden PKS Tifatul Sembiring mengumumkan PKS secara resmi mendukung pasangan CS. Penyataan dukungan itu disampaikan Tifatul, saat buka puasa bersama PKS Riau di Hotel Ibis, Jumat (5/9).

Lanjutkan membaca ‘Ada Apa dengan PKS?’

Jalan ke Surga

Seorang ustad mendapat undangan untuk memberi ceramah di masjid di sebuah desa yang letaknya agak terpencil. Selepas dari jalan raya, ustad yang mengendarai sepedamotor tersebut menyusuri jalanan tanah yang berkelok-kelok.

Di kanan kirinya cuma hamparan sawah, kadang-kadang ladang. Perjalanan yang jauh membuat ustad ragu-ragu, takut nyasar karena sudah lama dia tidak masuk ke desa itu. Benar saja, sampai di persimpangan dia bingung, mau ambil kiri atau kanan. Untunglah ada seorang pemuda lewat.

Pak ustad langsung menyetop pemuda itu dan bertanya, “Dik, adik tahu jalan ke masjid desa sukamakmur?”

Pemuda itu menjawab, “Oh sudah dekat pak, bapak ambil aja jalan ke kiri, trus setelah belokan pertama bapak akan melihat bngunan besar di sisi kanan jalan, itulah masjidnya”.

“Iya, iya, makasih dik, ngomong-ngomng adik warga sini?” tanya ustad.
“Iya pak” jawab pemuda itu.

“Kalau begitu, nanti habis maghrib adik datang ke masjid ya, nanti akan saya tunjukkan jalan ke surga”

Si pemuda itu menjawab dengan sinis, “Bagaimana mungkin bapak mau menunjukkan jalan ke surga, sedangkan jalan ke masjid saja bapak gak tau!!”

Ustad: ??????

ketawa.com

Bulan Ibadah

Puasa adalah mengekang keinginan diri, yang tidak terdapat dalam ibadah lain. Selama berpakaian ihram ketika berhaji, misalnya, memang ada beberapa larangan, namun makan minum tetap dibolehkan. Ketika salat, semua keinginan dikekang tapi hanya dalam waktu yang relatif singkat.

Sementara puasa tak hanya mengosongkan perut, namun juga menahan nafsu. Pengekangan inilah di antaranya yang mengandung hikmah serta rahasia yang tersembunyi. Karena kedudukan puasa yang seperti itu, Allah lalu menempatkannya sebagai ibadah yang istimewa. ”Puasa itu untuk-Ku,” firman Allah SWT, ”maka Aku sendiri yang akan membalas-Nya”.

Jadi dengan puasa, ada rahasia yang terjalin antara hamba dan Sang Khalik. Hanya Dia yang mengetahui rahasia itu. Semua amal ibadah untuk anak Adam. Sedang puasa, hanya ditujukan untuk Allah.

Lanjutkan membaca ‘Bulan Ibadah’



Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai