Arsip untuk April, 2008

Artis Seksi Dicambuk 70 Kali

JANGAN coba-coba berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram, di Arab Saudi. Pangadilan Riyadh memvonis penjara dan menjatuhkan hukum cambuk terhadap seorang artis tenar yang terbukti “berkhalwat” dengan lain jenis dalam sebuah mobil.

Kantor berita Saudi pada hari Kamis (3/4/2008) melansir bahwa Pangadilan Riyadh mengeluarkan vonis penjara dan cambuk untuk artis Saudi, yang juga juara dalam acara televisi yang cukup dikenal “Super Star”, setelah terbukti ia melakukan khulwah (berdua-duaan) bersama seoarang perempuan yang telah melepaskan semua pakainnya, yang bukan mahramnya di dalam mobilnya di Riyadh.

Hai’ah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, mendapat laporan, bahwa ada laki-laki dan perempuan berkhulwah dalam sebuah mobil, dan mereka mengetahui bahwa si laki-laki adalah seorang selebriti.

Pengadilan Riyadh akhirnya menjatuhkan vonis penjara dan 70 kali cambuk bagi penyanyi yang melakukan aktifitas amoral pada bulan lalu itu.

Petugas kemanan juga menyebutkan bahwa selebriti dan perempuan itu sama-sama warga Saudi. Dan perempuan itu juga telah dimasukkan penjara.

Masih menurut keterangan petugas, diketahui, bahwa perempuan itu adalah salah satu fans berat penyanyi itu, dan ia ingin bertemu dengan selebriti pujaannya itu, hingga keduanya saling berkomunikasi dan sepakat untuk bertemu di sebuah tempat. Menurut informasi, penyanyi ini juga baru saja tampil di Festival Lagu di Doha Qatar .

Saat ini negeri-negeri Muslim masih menjadi sasaran empuk bagi acara-acara televisi internasional, hingga generasi mudanya mabuk dengan acara “idola-idolaan”. Tak lupa dengan TV di Negeri ini yang menggunakan acara serupa karena dianggap memiliki rating tertinggi. Kasus Saudi ini mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran.

sumber: hidayatullah.com

Kontes Kecantikan Onta

PERNAHKAH Anda menyaksikan kontes kecantikan yang semua pesertanya telanjang? Wow… Bagaimana pula jika kontes tersebut digelar di sebuah negara berpenduduk Muslim, di Timur Tengah? Pasti Anda menduga akan banyak protes dari sana sini. Nyatanya tidak, karena ini hanya kontes kecantikan onta.

Tak mau kalah dengan kontes putri-putrian atau ratu sejagat, onta pun berbondong-bondong bersaing dalam kontes kecantikan yang digelar di Uni Emirat Arab.

Kontes ini pun sama dengan kontes kecantikan ratu-ratuan pada umumnya. Fisik yang “bohai” jadi faktor utama penilaian. Begitupun dengan kemolekannya.

Bedanya, kontes ini tentunya tidak akan menimbulkan kontroversi meski tak hanya sekeda memamerkan ‘body’ dalam balutan baju seksi, karena toh onta memang selalu telanjang.

Sepuluh ribu onta, Kamis (3/4) akan bersaing satu sama lain untuk memenangkan hadiah sebesar 1 milyar Poundsterling dan lebih dari 100 mobil serta hadiah menarik lainnya.

sumber: myrmnews.com

Pengen Bahagia, Bersedekahlah!


SEMUA orang tentu pengen hidup bahagia. Ternyata tak sulit-sulit amat caranya. Sebuah penelitian psikologi di Kanada baru-baru ini menunjukkan, makin banyak uang yang Anda sumbangkan untuk menolong sesama, maka hidup Anda pun makin bahagia!

Semakin besar uang yang dibelanjakan orang untuk menolong sesama, atau dalam rangka memberi hadiah untuk orang lain, maka si dermawan tersebut akan bertambah bahagia. Demikian hasil kajian Elizabeth Dunn, pakar psikologi dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada.

Rincian penelitian ini diterbitkan baru-baru ini di jurnal ilmiah terkemuka dunia, Science, volume 319, tanggal 21 Maret 2008. Dimuat di halaman 1687-1688, karya ilmiah mengejutkan itu terpampang dengan judul “Spending Money on Others Promotes Happiness” (Membelanjakan Uang untuk Orang Lain Meningkatkan Kebahagiaan).

Memenangkan undian atau kuis berhadiah uang miliaran barangkali merupakan simbol kebahagiaan. Namun, penelitian terkini tersebut menjungkirbalikkan ilmu ekonomi yang selama ini diajarkan turun-temurun tersebut.

Temuan itu menunjukkan, yang terpenting bukanlah jumlah uang yang kita punya, tetapi bagaimana kita membelanjakannya! Orang yang menyedekahkan uangnya untuk membantu mereka yang membutuhkan, atau berbelanja hadiah untuk diberikan kepada orang lain ternyata lebih bahagia daripada mereka yang menghamburkan uang untuk kepuasan diri sendiri.

Penelitian terkait sekitar 3 tahun sebelumnya memperlihatkan bahwa kaum kaya sedikit lebih bahagia daripada kaum miskin. Akan tetapi kaitan antara kekayaan dan kebahagiaan tersebut lemah, dan pakar ekonomi berusaha keras mencari penjelasan atas pertanyaan, misalnya, mengapa di Amerika Serikat warganya tidak menjadi lebih bahagia ketika harta benda mereka semakin berlimpah.

Demikian tulis Elsa Youngsteadt yang mengulas hasil penelitian Elizabeth Dunn itu di ScienceNOW Daily News, 20 Maret 2008 dengan judul “The Secret to Happiness? Giving”. (Rahasia Menuju Bahagia? Memberi). Hasil temuan yang sama ini dikupas oleh Brendan Borrell di majalah ilmiah kondang, Nature, di bawah judul “Money buys happiness. Especially if you give it away.” (Uang membeli kebahagiaan. Terutama jika Anda Menghadiahkannya).

Sang peneliti, pakar psikologi sosial, Elizabeth Dunn, dalam kajiannya ingin menemukan jenis pembelanjaan uang seperti apa yang sebenarnya membuat orang bahagia. Ia dan rekannya meneliti 109 mahasiswa universitasnya. Tidak heran, kebanyakan berkata bahwa mereka lebih bahagia dengan uang 20 dolar ketimbang hanya 5 dolar. Para mahasiswa itu menambahkan bahwa mereka akan membelanjakannya untuk diri sendiri ketimbang untuk orang lain.

Di sisi lain, Dunn dan timnya memberi 46 mahasiswa lain dengan amplop berisi uang 5 dolar atau 20 dolar, tapi tidak membiarkan mereka bebas memilih untuk apa uang tersebut akan dibelanjakan. Yang dilakukan peneliti itu adalah menyuruh mereka membelanjakan uang itu untuk hal-hal tertentu.

Menariknya, mahasiswa yang mengeluarkan uang untuk amal kemanusiaan atau membeli hadiah untuk orang lain pada akhirnya lebih bahagia dibandingkan mereka yang membelanjakan untuk kepentingan pribadi, seperti melunasi rekening atau bersenang-senang.

Ternyata fenomena ini tidak berlaku untuk kalangan mahasiswa saja. Kelompok penelitian Dunn juga melakukan jajak pendapat pada 16 karyawan di sebuah perusahaan di Boston sebelum dan sesudah mereka mendapatkan bonus dengan beragam besaran. Selain itu Dunn dan rekannya mengumpulkan data tentang gaji, pengeluaran, dan tingkat kebahagiaan dari 632 orang di seantero Amerika Serikat.

Kesimpulannya sungguh menarik. Di kedua kelompok orang tersebut, kebahagiaan ternyata ada hubungannya dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk orang lain daripada jumlah absolut bonus atau gaji.

Hasil temuan ini “membenarkan dugaan kami lebih kuat daripada yang berani kami impikan,” kata Dunn. Pengaruh membelanjakan uang demi kebaikan orang lain mungkin mirip olah raga yang memiliki pengaruh seketika maupun dampak jangka panjang, papar Dunn sebagaimana ditulis Elsa Youngsteadt.
Satu kali memberi mungkin menjadikan seseorang bahagia dalam sehari, tapi ketika kebiasaan memberi ini menjadi sebuah cara hidup, dampak kebahagiaan itu bisa menjadi sangat lama, papar Dunn.

Yang tak kalah menarik, di akhir tulisan ilmiahnya, sang pakar, Dunn, berharap bahwa temuannya itu suatu saat bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi pembuat kebijakan dalam menganjurkan sikap kedermawanan kepada warganya yang mengabaikan manfaat sikap positif ini. Menurutnya, hal ini dalam rangka menciptakan warga negara yang cenderung memberikan harta mereka untuk kebaikan orang lain, sehingga bertambahnya kekayaan warga beriringan dengan semakin meningkatnya kebahagiaan warga negeri tersebut.

Pakar ekonomi Andrew Oswald dari University of Warwick, Inggris, menganjurkan bahwa hasil kajian ini perlu dikukuhkan lebih lanjut dengan memperbesar jumlah orang yang diteliti, hingga mendekati 1000 orang, agar kesimpulannya benar-benar meyakinkan. Terlepas dari itu, Oswald berujar bahwa hasil penelitian Dunn bakal mengejutkan kebanyakan pakar ekonomi. Sebab selama ini mereka beranggapan bahwa membelanjakan uang untuk diri sendiri memberikan kebahagiaan terbesar.

“Ini adalah hasil temuan yang membuat penasaran yang tidak akan Anda temukan di 101 buku pelajaran Ekonomi,” kata Oswald.***

sumber: hidayatullah.com



Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai